Sindo Batam

Daftar Sekolah Antre sejak Subuh

Daftar Sekolah Antre sejak Subuh
Wali murid antre sejak subuh.

PPDB Online Tak Dimanfaatkan, Lebih Memilih Daftar Manual

BATAM – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sejumlah sekolah unggulan yang sudah dimulai kemarin harusnya lebih mudah dengan dibukanya pendaftaran secara online. Namun, banyak orangtua tak memanfaatkannya dan memilih antre sejak subuh.
===
Antrean panjang orangtua siswa untuk mendapatkan nomor urut pendaftaran itu terlihat di SMPN 3, SMPN 6, dan SMPN 26 Batam. Kemarin merupakan hari pertama pertama PPDB di SMP unggulan yang akan berlangsung hingga Rabu (7/6) besok. Minat orangtua untuk mendaftarkan anaknya di sekolah unggulan sangat tinggi.

“Saya dari pukul 5.00 sudah di sini,” kata Mariati, salah satu orangtua siswa yang ingin mendaftarkan anaknya masuk ke SMPN 3 Batam, Senin (5/6).

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam sebenarnya telah menyiapkan pendaftaran online di laman http://disdik.batam.go.id atau di https://ppdbbatam.id. Namun banyak orangtua siswa yang lebih memilih mendaftar langsung di sekolah. Mariati misalnya, mengaku awam dalam hal teknologi, terlebih tak pernah ada simulasi atau sosialisasi.

“Takut error atau berkasnya tak masuk. Saya tak mau anak saya gagal masuk sekolah unggulan hanya karena masalah seperti itu,” ujarnya.

Orangtua siswa lainnya, Neli juga mengungkapkan hal senada. Dia lebih memilih antre di SMPN 3 Batam sejak pukul 6.00 dan berhasil mendapat nomor antrean 119.

“Lebih yakin kalau sudah disampaikan langsung. Kalau pakai online tak tahulah sampai atau tidak dan tak bisa dipastikan. Tak apalah capek-capek antre, yang penting berkasnya masuk dulu,” katanya.

Antrean orangtua siswa mendaftarkan anaknya masuk sekolah unggulan juga terlihat di SMPN 6 Batam di Seipanas. Pantauan KORAN SINDO BATAM, orangtua siswa sudah datang ke sekolah sejak pukul 04.30. Padahal jadwal pendaftaran mulai pukul 08.00 sampai 12.00.

“Siap sahur saya langsung ke sini dan salat subuh di samping sekolah,” kata Prasetyo yang jauh-jauh datang dari Tanjungpiayu.

Tahun ini, SMPN 6 Batam hanya menerima 256 siswa dan 10 persen siswa tidak mampu, 5 persen siswa bina lingkungan, dan 5 persen siswa berprestasi nonakademis.

Menurut Prasetyo, saat tiba di SMPN 6 Batam, sudah ada 30 orangtua siswa lainnya yang mengantre nomor pendaftaran. Dia sengaja mendaftarkan anaknya ke sekolah unggulan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Anaknya tamatan Madrasah Ibtidaiyah Raudlatul Quran Bidaayu dengan nilai rata-rata Matematika, Bahasa Indonesia, dan IPA 85,00 mulai dari kelas 4, 5, dan 6.

“Alhamdulillah saya mendapat nomor antrean 37,” ujarnya.

Kepala SMPN 3 Batam, Wiwik Darwiyanti mengaku sudah memprediksi membludaknya antrean orangtua siswa yang ingin mendaftarkan anaknya masuk sekolah unggulan. Untuk mengantisipasi, pihaknya menugaskan satpam sekolah untuk berjaga sejak dini hari.

Pada hari pertama PPDB di sekolah yang berlokasi di Seiharapan itu, ada 800 calon siswa mengambil nomor antrean. Sementara yang mendaftar melalui online hanya sekitar 5 persen.

“Jumlah yang mendaftar manual memang jauh lebih banyak. Tapi kami telah mengantisipasi, termasuk menyiapkan nomor antrean,” katanya.

Menurut Wiwik, tahun ini SMPN 3 Batam hanya menerima 229 siswa untuk sembilan kelas. Masing-masing kelas akan diisi 32 siswa. Selain itu, SMPN 3 Batam juga menyediakan kuota 20 persen untuk bina lingkungan, prestasi non akademik, dan siswa kurang mampu.

Siswa yang ingin mendaftar harus punya nilai rapor semester ganjil kelas IV, V, VI untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA minimal 85,00 serta menunjukkan rapor asli. Jika tak memenuhi syarat, otomatis akan didiskualifikasi.

Setelah lulus persyaratan nilai dan administrasi, akan ada tes tertulis untuk tiga mata pelajaran tersebut pada 8 Juni. Soal-soalnya disusun oleh tim guru sekolah unggulan Kota Batam.

“Hasilnya akan diumumkan secara online (pada 10 Juni), juga ditempel di sekolah,” ujarnya.

Sementara terkait penerapan Permendikbud 17/2017 tentang sistem zonasi dalam PPDB, Wiwik mengaku masih menunggu instruksi dari Disdik Batam. Pasalnya, belum ada aturan yang mengatur secara rinci mengenai penerapan minimal 90 persen berbasis zonasi tempat tinggal dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.

“Sebelum diterapkan, kami harus lihat dulu sistem zonasinya seperti apa. Apakah harus mendahulukan siswa di sekitar Kelurahan Seiharapan meski nilainya kurang memadai atau bagaimana. Belum ada petunjuk teknis yang rinci,” jelasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Musim Bidin mengakui PPDB online di Batam belum sesuai harapan. Sebab kenyataannya orangtua siswa lebih memilih mendaftar langsung di sekolah, meski harus antre.

“Nyatanya mereka lebih memilih antre dari subuh,” kata Muslim.

Gagal Mendaftar Karena Nilai
Ratusan orangtua siswa kecewa setelah gagal mendaftar di sekolah unggulan SMPN 26 Batam, karena nilai anaknya tidak memenuhi persyaratan. Syarat itu adalah nilai rapor semester ganjil kelas IV, V, VI untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA minimal 85,00. Mereka menilai persyaratan tersebut tidak masuk akal.

“Masa rata-rata nilai rapor kelas IV menjadi salah satu persyaratan. Percuma saja anak kami juara di kelas V dan VI atau mendapat nilai tertinggi UN di Kepri, tapi tidak bisa masuk SMPN 26,” kata salah satu orangtua siswa, Anita.

Menurut Anita, seharusnya yang menjadi persyaratan masuk sekolah unggulan adalah hasil nilai ujian nasional (UN). Sebab saat masih duduk di kelas IV, rata-rata anak belum fokus untuk belajar.

“Harusnya yang menjadi penentu adalah hasil UN, biar anak-anak bisa bersaing di jenjang yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Ketua PPDB SMPN 26 Batuaji, Gusnida menjelaskan, persyaratan nilai rapor semester ganjil kelas IV, V, dan VI tersebut merupakan persyaratan khusus untuk masuk sekolah unggulan tingkat SMP di Batam.

“Memang persyaratannya lebih ketat dibandingkan dengan sekolah lainnya,” ungkapnya.

Jangan Ada Pungli
Wali Kota Batam, Muhammad Rudi mengingatkan petugas PPDB untuk bekerja sesuai aturan. Tidak ada biaya dalam PPDB. Apalagi kondisi perekonomian masyarakat sedang lesu, sehingga semua yang memberatkan masyarakat harus dihilangkan, seperti buku lembar kerja siswa (LKS), seragam, dan sebagainya.

“Tidak ada biaya ini dan itu. Jangan sampai karena itu, masyarakat tak bisa sekolah,” tegasnya.

Rudi mengaku pihaknya sudah mengantisipasi sejak awal. Bahkan, pihaknya sudah memanggil Kepala Disdik Batam Muslim Bidin agar mewaspadai saat PPDB.

“Yang perlu ditekankan, mental pelaksana (PPDB),” ujarnya.

Selain itu, Wali Kota juga menekankan PPDB sesuai aturan yang baru harus diterapkan. Semua peserta didik masuk dalam zona sekolah harus diakomodir. Masyarakat juga diimbau untuk tidak berbondong-bondong ke sekolah, karena pihaknya sudah menerapkan sistem online.

“Sudah kami selesaikan,” ujarnya.

sarma haratua siregar/romi kurniawan/tengku bayu/fadhil

Share Berita Ini

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com