SINDOBatam

Opini+

Jungkir Balik+

Gagal Kuliah Kedokteran, Nikmati Kuliah Hukum Sampai Jadi Jaksa

  • Reporter:
  • Senin, 1 Mei 2017 | 11:19
  • Dibaca : 429 kali
Gagal Kuliah Kedokteran, Nikmati Kuliah Hukum Sampai Jadi Jaksa
Kajari Batam Roch Adi Wibowo. Foto Agung Dedi Lazuardi.

:: Mengenal Lebih Dekat Kepala Kejaksaan Negeri Batam, Roch Adi Wibowo

Roch Adi Wibowo sempat berangan-angan menjadi dokter sebelum kuliah hukum di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta tahun 1987 silam. Impian jadi dokter pupus setelah gagal tes masuk. Pasrah, Bowo muda malah ketagihan ilmu hukum sampai lulus dan menjadi Jaksa.

Lobi kantor Kejaksaan Negeri Batam lengang, Jumat (27/9) sore. Sebagian pegawai sudah pulang kerja. Suara datang dari lantai empat, tiga pegawai tampak berbincang di balik meja ruangan sekretariat Kepala Kejari (Kajari) Batam.

Ketiganya saling lempar komentar sembari menyaksikan siaran berita di televisi. Di ruangan kecil sebelah ruangan sekretariat Kajari, beberapa pria duduk menunggu giliran bertamu ke Kajari, Roch Adi Wibowo.

Setelah menunggu sekitar 10 menit, KORAN SINDO BATAM dipersilahkan masuk ke ruangan yang berada tepat di depan ruangan sekretariat.

“Silahkan masuk. Duduk di sini saja,” ujar Roch Adi Wibowo dari balik mejanya.

Tangannya masih menandatangani sejumlah kertas berwarna merah muda. Beberapa tumpukan kertas juga terlihat di atas meja kerjanya. “Maaf ya, banyak sekali dokumen yang harus saya tandatangani. Tapi sedikit lagi, kok,” katanya.

Usai menandatangani dokumen, kami melanjutkan obrolan lebih dalam. Perbincangan dimulai dari kisah kehidupan keluarganya. Bowo, sapaan akrab Roch Adi Wibowo terlahir dari keluarga yang cukup. Ayahnya Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Jepara. Sedangkan ibunya seorang kepala sekolah dasar negeri.

Layaknya anak kecil lainnya, Bowo memiliki cita-cita. Sejak kecil, ia ingin menjadi dokter. Tak ada alasan kuat atas cita-citanya itu. “Nggak tahu juga kenapa bisa ingin jadi dokter. Kayak anak-anak lainnya saja, ingin jadi dokter, saya pun ingin jadi dokter,” katanya.

Tak hanya sekedar cita-cita anak kecil, Bowo yang telah menyelesaikan pendidikan tingkat atas mencoba keberuntungan dengan mengikuti tes masuk Fakultas Kedokteran. “Tapi sayangnya tidak lulus. Akhirnya, saya masuk perguruan tinggi swasta,” katanya.

Tahun 1987, Bowo terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia di Yogjakarta. Ia yang masuk ke fakultas tersebut sempat dibuat kaget. Bahkan, saat memasuki semester tiga, Bowo sempat berpikir untuk mundur dari kuliahnya. Namun, Bowo perlahan mulai tertarik dengan dunia hukum. “Mata saya mulai melek dan minat mulai muncul. Kalau awal-awal kan tidak. Masuk ya karena asal kuliah saja,” ujarnya.

Sama halnya masuk ke Fakultas Hukum, Bowo tak pernah membayangkan akan berkarir di instansi Kejaksaan Agung. Semua serba kebetulan. Lulus kuliah, ia mendapatkan informasi seputar penerimaan calon jaksa. Bowo kembali mencoba keberuntungan. Tes masuk jaksa pun diikutinya hingga akhirnya ia dinyatakan lulus.

Pertama bertugas, ia menjadi staf di Kejaksaan Negeri (Kejari) Jogjakarta tahun 1993. Empat tahun kemudian, ia diangkat menjadi jaksa dan bertugas di Metro Lampung. Sekitar satu tahun lebih bertugas sebagai jaksa baru, Bowo dipindahkan ke Jepara, kampung halamanannya. Ia mengabdi selama 1,5 tahun di sini. Perpindahan dan rotasi selalu ia jalani. Dan hingga saat ini, ia sudah 14 kali berpindah tugas.

Bertugas di banyak tempat, membuat Bowo memiliki banyak pengalaman. Bahkan, hingga saat ini, ia tidak dapat melupakan kenangan saat menjalani tugas sebagai Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) di Kejari Surabaya tahun 2009. Bowo diharuskan melaksanakan hukuman mati kepada dua terpidana mati yang berstatus ibu dan anak.

Terpidana mati tersebut adalah Sugeng dan Sumiarsih. Keduanya merupakan pelaku pembunuhan berencana terhadap Letkol Marinir Purwanto. “Itu perkara lama. Mereka baru dieksekusi 18 tahun setelah pembunuhan itu terjadi. Sumiarsih saja sudah tua. Waktu dieksekusi, usianya lebih 60 tahun,” kenang Bowo.

Cerita Bowo, pelaksanaan eksekusi mati kala itu tidaknya semudah saat ini. Tim eksekusi harus mencari tempat sendiri dan melaksanakan sejumlah persiapan. Sulitnya lagi, tak banyaknya lahan kosong membuat tim kewalahan mencari tempat pelaksanaan eksekusi. “Akhirnya ketemu satu tempat yang sampai saat ini saya rahasiakan kepada siapapun. Sebelumnya, kami melakukan simulasi agar warga tidak kaget. Kami buat seolah-olah ada latihan tembak menembak di lokasi itu. Jadi, pada saat eksekusi berlangsung, warga sekitar tahunya kami sedang latihan. Padahal kami menembak mati dua orang,” cerita Bowo lagi.

Tidak hanya berhasil melaksanakan eksekusi mati terhadap Sugeng dan Sumiarsih, Bowo juga pernah menyeret beberapa pejabat Kabupaten Kendal. Bupati, Sekretaris Daerah dan Ketua DPRD Kendal serta Ketua Banggar berhasil diseret sebagai tersangka dalam kasus korupsi kas daerah. Perkara yang ditangani pada tahun 2005 tersebut membuat para pelaku dijatuhi hukuman di atas 5 tahun.

Dalam hal penanganan kasus korupsi, Bowo juga sempat menyelesaikan kasus korupsi mark up pembelian lahan dan bangunan Kantor Cabang Bank Maluku. Kasus ini melibatkan 3 tersangka yang akhirnya divonis di atas 8 tahun penjara.

Keberhasilan dan prestasi Bowo selama menjalankan tugas membuat karirnya terus meningkat. Bowo pertama kali dipercaya menjadi Kajari yakni pada tahun 2011 dan bertugas di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Ia menduduki jabatan tersebut selama 2 tahun 3 bulan.

Selanjutnya, Bowo hijrah ke Sumenep, Jawa Timur tahun 2013 dengan jabatan yang sama. Dua tahun kemudian, Bowo kembali dirotasi ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku dan bertugas sebagai Asisten Pengawas. Setelah bertugas selama 1,5 tahun, ia diberi amanah untuk menjadi Kajari Batam.

Bowo mengaku, keberhasilannya tak lepas dari kerjasama tim yang kompak. Sebagai seorang pimpinan, Bowo mengaku selalu bersikap blak-blakan kepada seluruh anggota. “Saya senang kalau anak buah itu kompak. Karena dengan kompak, akan ada keterbukaan dan semuanya bisa bekerja secara tim. Selain itu, kerja harus bertanggungjawab. Tidak hanya kerja asal selesai saja,” katanya.

Selain itu, dukungan keluarga selalu menjadi hal utama dalam mencapai peningkatan karir. Bowo mengaku sangat mencintai keluarganya. Istri dan 4 orang anaknya merupakan hal utama dalam hidupnya. Tak muluk-muluk, sang istri merupakan seorang wanita yang sudah lama berwirausaha. “Dulu sempat punya toko alat-alat pertanian. Tapi sekarang tidak terlalu fokus karena sering ikut saya berpindah-pindah tempat,” kata Bowo.

Sedikit bercerita, Bowo bertemu dengan sang istri di sebuah bengkel mobil di Jepara. Waktu itu, mobil Bowo dan sang istri sama-sama rusak. “Di situ bertemu, berkenalan. Tidak lama kemudian, menikah,” kenangnya.

Pernikahannya dihadiahi 4 orang anak. Dari keempat buah hatinya, ia hanya dikarunia satu orang Putri. Namun, sang Putri yang merupakan anak kedua dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dan berpulang. Kendati demikian, Bowo selalu bangga kepada setiap putranya.

“Anak saya yang besar sudah 16 tahun. Yang kecil, bonus. Masih TK. Ini anak saya yang paling besar. Ganteng kan, seperti bapaknya?,” ujar Bowo bercanda sembari melihatkan foto sang Putra dari ponselnya.

Bowo yang memiliki hobi olahraga golf dan tenis ini mengaku tidak akan memaksakan ketiga Putra untuk ikut menjadi jaksa seperti dirinya. “Yang penting, jadi orang baik,” katanya.

Kepada anak-anak, Bowo selalu memberikan nasihat agar sang anak mampu memiliki ilmu yang tinggi. Menurutnya, sebagai orang tua, ia harus membekali sang anak dengan ilmu setinggi-tingginya. “Kalau dibekali uang, sebanyak apapun tidak akan cukup. Tapi kalau anak-anak dibekali ilmu yang tinggi, itu akan bermanfaat untuk masa depannya, bahkan di saat kedua orang tuanya sudah tidak ada,” kata Bowo.

Loading...

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com