Sindo Batam

ATB Sukses Tekan Kebocoran Air

  • Reporter:
  • Selasa, 21 Maret 2017 | 19:47
  • Dibaca : 240 kali
ATB Sukses Tekan Kebocoran Air
President Director ATB Ir Benny Andrianto MM menyerahkan plakat penghargaan kepada Sekretaris Umum DPP PERPAMSI, Erlan Hidayat di sela-sela pengoperasian perangkat aplikasi teknologi informasi Supervisory Control And Data Acquisition (SCADA) dan Geographic Information system (GIS) milik PT Adhya Tirta Batam (ATB).

:: Jadi Pionir Bagi Perusahaan Air Minum di Indonesia

BATAM – Puluhan Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dari seluruh wilayah di Indonesia, berkesempatan menyaksikan perangkat aplikasi teknologi informasi Supervisory Control And Data Acquisition (SCADA) dan Geographic Information system (GIS) milik PT Adhya Tirta Batam (ATB).

Bersama Persatuan Perusahaan Air Minum di Indonesia (PERPAMSI), ATB ingin berbagi pengetahuan tentang pentingnya mengontrol kehilangan air dengan basis teknologi informasi. Mengingat SCADA yang ada dan telah diaplikasi oleh ATB merupakan sistem terlengkap yang dimiliki PDAM yang ada di Indonesia.

“Penggunaan SCADA, berfungsi untuk bisa lebih mudah mengontrol tingkat kebocoran air. Kesempatan ini bisa jadi template untuk mengembangkan anggota Perpamsi lainnya, yang saat ini masih kesulitan menurunkan tingkat kebocoran. Tinggal aplikasinya disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing PDAM,” jelas President Director ATB Ir Benny Andrianto MM, Selasa (17/1).

Sistem yang sudah dibangun sejak tahun 2011 ini, merupakan sistem unggulan yang dikembangkan oleh karyawan ATB secara langsung. “Sistem SCADA dan GIS yang ada di ATB sudah terintegrasi antara produksi, distribusi dan NRW, bahkan lebih komplet dari PDAM lain di Indonesia. Di antaranya Jakarta, Banjarmasin dan Malang,” ujar Benny Andrianto.

Erlan Hidayat, Sekretaris Umum PERPAMSI mengapresiasi kegiatan yang digagas oleh ATB. Menurutnya ATB merupakan pionir dalam menekan tingkat kehilangan air yang sudah lebih dulu membuktikan dan maju. Termasuk memanfaatkan Teknologi Informasi agar potensi kehilangan air bisa dikontrol.

Tingkat kehilangan air ATB, termasuk paling rendah di seluruh Indonesia yakni di angka 15,28 persen rata-rata tahunan, bahkan pernah menyentuh di angka 11,9 persen di bulan Mei pada 2016.

Erlan menambahkan, adanya tolok ukur seperti yang sudah digagas ATB menjadi momen penting untuk dijadikan bekal bagi anggota Perpamsi lainnya.

Mengingat setiap PDAM memiliki tingkat kebocoran yang berbeda-beda, namun rata-rata kebocoran PDAM masih tinggi. Dengan rata-rata masih di atas 35 persen.

“Setiap PDAM tentunya tidak lepas dari polemik kehilangan air. Dengan adanya gagasan seperti ini, bisa saling sharing ilmu dengan PDAM yang berpartisipasi. Pada prinsipnya, semua anggota PDAM sangat tertarik untuk mengetahui hal ini lebih lanjut,” ujar Erlan.

Sementara itu, Anggota Deputi IV BP Batam, Robert M Sianipar mengatakan, penggunaan teknologi informasi yang digunakan ATB sejauh ini cukup baik.

Bahkan ATB sudah menjadi pionir perusahaan air minum di Indonesia dalam berbagai hal mulai dari distribusi hingga produksinya sudah mengaplikasikan teknologi terkini.

“Selama lebih dari 20 tahun ATB telah melebihi dari target, ATB bisa menjawab tantangan itu dengan menyiapkan suplai air minum ke seluruh warga Batam hingga saat ini. Termasuk pemanfaatan teknologi informasi untuk memudahkan operasional hal ini tetap harus dipertahankan dan layanan lebih ditingkatkan lagi,” pesan Robert.

Foto dan Narasi: Media Development Officer ATB

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com