SINDOBatam

Terbaru Metro+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Harga Tiket Mudik Pengaruhi Inflasi

  • Reporter:
  • Kamis, 8 Juni 2017 | 14:21
  • Dibaca : 151 kali
Harga Tiket Mudik Pengaruhi Inflasi
Arus mudik tahun lalu. Foto Arrazy Aditya.

BATAM KOTA – Harga tiket mudik lebaran diprediksi mempengaruhi inflasi Juni ini. Indeks Harga Konsumen (IHK) diperkirakan meningkat sejalan dengan Ramadan dan Idul Fitri. Beberapa resiko inflasi yang perlu dicermati yaitu kenaikan tarif listrik, potensi kenaikan tarif angkutan udara menjelang mudik Idul Fitri. Kemudian potensi kelangkaan elpiji 3 kg sejalan dengan peningkatan permintaan.

Ketua II TPID Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengatakan, adanya rencana kenaikan pajak air permukaan di Batam dan meningkatnya daya beli masyakat dengan adanya tunjangan hari raya (THR), sehingga meningkatnya konsumsi untuk hari raya. Selain itu juga meningkatnya ekspektasi inflasi pedagang dan konsumen menjelang hari raya.

“Kemudian ada juga potensi terhambatnya pasokan distribusi barang dari Sumatera Barat seiring dengan meletusnya gunung merapi,” ujarnya di Batam Centre, Rabu (7/6).

Dia menambahkan, Kepri mengalami inflasi sebesar 0,54 persen (mtm) pada Mei atau 5,04 persen(yoy), meningkat dibanding April yang mencatatkan inflasi 0,38 persen (mtm) atau 4,44 persen (yoy). Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri dari dua kota yakni Batam dan tanjungpinang mengalami inflasi masing-masing sebesar 0,56 persen dan 0,41 persen.

Tingkat inflasi Kepri pada Mei lebih tinggi jika dibandingkan dengan nasional sebesar 0,39 persen (mtm) atau 4,33 persen (yoy), juga lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata historisnya tiga tahun terakhir yaitu inflasi sebesar 0,22 persen (mtm).

“Kelompok komoditas volatile food menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil sebesar 0,28 persen dan diikuiti oleh kelompok administered price dan inti dengan andil masing-masing 0,24 persen dan 0,01 persen,” ujarnya.

Andil terbesar pada inflasi volatile food bersumber dari komoditas bayam, cabai merah dan bawang putih. Kenaikan komoditas tersebut karena disebabkan terbatasnya pasokan kendala distribusi dan cuaca di daerah penghasil serta peningkatan permintaan menjelang Ramadan.

Kemudian pada kelompok administered price bersumber dari tarif angkutan udara dan bensin. Penyebabnya dikarenakan peningkatan permintaan di tengah hari banyak libur nasional yang jatuh pada awal dan akhir bulan Mei. Sementara untuk bahan bakar minyak (BBM) karena kenaikan jenis pertalite sebesar Rp100 per liter.

Sedangkang untuk kelompok inti mencatatkan inflasi 0,02 persen (mtm) meningkat dibanding bulan sebelumnya yang deflasi 0,18 persen (mtm). Andil terbesar inflasi bersumber dari komoditas ketupat atau lontong sayur dan bubur yang inflasi 4,97 persen (mtm) dengan andil iflasi 0,03 persen. “Komoditas parfum dan bawang bombay juga turut menyumbang inflasi keompok inti,” kata Gusti.

Kepala BPS Kepri Panusunan Siregar mengatakan, dari 70 kota yang mengalami Inflasi se-Indonesia pada Mei, Kota Batam dan Tanjungpinang menduduki posisi ke 27 dan 28. Dan dari 23 kota IHK di wilayah Sumatera, tercatata 16 kota mengelami Inflasi pada Mei, dengan Inflasi tertinggi terjadi di Kota Lhokseumawe dan Tanjungpandan sebesar 0,90 persen.

“Sebaliknya, 5 kota IHK di Sumatera justru mengalami deflasi dengan deflasi tertinggi di Kota Pangkal Pinang sebesar 0,93 persen dan deflasi terendah di Kota Pematang Siantar sebesar 0,01 persen,” ujarnya.

Loading...

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com