Sindo Batam

Kapolda Kepri Buka Puasa Bersama Asosiasi Rektor

  • Reporter:
  • Kamis, 15 Juni 2017 | 14:24
  • Dibaca : 78 kali
Kapolda Kepri Buka Puasa Bersama Asosiasi Rektor
Kapolda Kepri Irjen Sam Budigusdian. Foto Arrazy Aditya.

BATAM – Polda Kepri menggelar buka puasa bersama rektor-rektor universitas yang ada di Kepri sekaligus penandatanganan kesepahaman menolak paham kekerasan di Best Western Panbil Hotel, Selasa (13/6).

Kapolda Kepri Irjen Sam Budigusdian mengatakan, kampus merupakan tempat strategis di suatu daerah dalam membangun sebuah peradaban. Selain itu, kampus juga merupakan media dalam menanamkan suatu paham tertentu. “Hari ini kami melaksanakan suatu komitmen bersama teman-teman rektor untuk menolak segala paham kekerasan yang mengancam keutuhan ideologi negara,” ujarnya.

Kapolda mengapresiasi dengan baik komitmen kesepahaman ini, dengan bersama-sama menjaga stabilitas Kamtibmas dan keutuhan NKRI. Dia mengatakan, peran akademisi dalam menangkal paham kekerasan dalam lingkungan kampus sangat strategis.

“Karena kalangan akademisi merupakan kalangan yang mencetak generasi muda masa depan, dan ini sangat penting dilakukan teman-teman rektor bersama adik-adik mahasiswa,” kata jenderal bintang dua ini.

Hal ini merupakan langkah komitmen awal bersama kalangan akademisi dalam mencegah masuknya paham-paham yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Kesepahaman tersebut juga bisa membuka lebar informasi apa saja secara cepat dan akan diselesaikan dengan tepat, ketika ada persoalan yang dihadapi. “Ini perlu terus dilakukan sebagai sarana silaturahmi dan kami juga akan terus mengawal komitmen ini bersama asosiasi rektor,” ujarnya

Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Syafsir Akhlus, menambahkan, deklarasi menolak paham kekerasan tersebut merupakan tanggung jawab besar perguruan tinggi. Menurut dia, UMRAH sebagai perguruan tinggi negeri di Kepri, mengambil peran besar dalam menjaga keutuhan negara sesuai tugas dan fungsinya.
“Salah satu fungsinya, melindungi rakyat dan pemerintah dari hal-hal yang sifatnya destruktif,” kata Syafsir.

Saat ini ada gerakan yang cukup terstruktur, berupaya menggantikan ideologi yang menjadi dasar negara. Hal itu tak terlepas dari kelalaian negara dalam menjaga ideologi, sehingga banyak alternatif ideologi yang masuk pasca reformasi. “Kita sudah punya baju sendiri kenapa harus memakai baju orang lain. Sekarang kita tegas mengatakan kembali pada ideologi yang kita miliki,” ujarnya.

Share Berita Ini

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com