SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

KEK Batam, Karimun, Bintan Ditetapkan Bersamaan

KEK Batam, Karimun, Bintan Ditetapkan Bersamaan
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Batuampar Batam. Foto Teguh Prihatna.

JAKARTA – Pemerintah tengah memfinalisasi penambahan tujuh kawasan ekonomi khusus (KEK) baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya industri di luar Pulau Jawa. Dari tujuh KEK itu, tiga di antaranya adalah KEK Nongsa di Batam, Pulau Asam Karimun, dan Galang Batang di Bintan.

Empat KEK lainnya adalah Kuala Tanjung (Sumatera Utara), Merauke (Papua), Melolo (Nusa Tenggara Timur), dan Pulau Bangka (Bangka Belitung). Penetapan ketujuh KEK tersebut rencananya akan dituangkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pemerintah berencana menambah 14 KEK hingga tahun 2019 sehingga total KEK mencapai 25. Dia pun berharap penetapan KEK mendorong investasi masuk ke wilayah tersebut.

“Kita menargetkan investasi dari KEK ini mencapai Rp669 triliun dengan serapan tenaga kerja 625.583 orang. Realisasinya hingga saat ini sebesar Rp143,65 triliun,” kata Menko, di kantornya, Selasa (13/6) malam.

Untuk diketahui, sejauh ini pemerintah telah menetapkan 11 wilayah menjadi KEK. Ke-11 KEK itu adalah KEK Seimangkei, KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan, KEK Palu, KEK Morotai, KEK Tanjung Api-Api, KEK Tanjunglesung, KEK Mandalika, KEK Bitung, KEK Sorong, KEK Tanjungkelayang, dan KEK Arun.

“Dari sebelas itu, baru dua yang beroperasi, yaitu KEK Seimangkei dan KEK Tanjungkelayang,” kata Menko.

Berbeda dengan kawasan perdagangan bebas, Menko mengatakan, investor yang menanamkan modal di KEK mendapatkan insentif fiskal berupa tax allowance berupa pengurangan pajak penghasilan (PPh) badan antara 20-100% dengan syarat penanaman modal minimal Rp1 triliun. Selain itu, investor juga terbebas dari kewajiban perpajakan lain seperti bea masuk, pajak pertambahan nilai (PPN), dan pajak penjualan atas barang mewah.

Sekretaris Menko Bidang Perekonomian Lukita Dinarsyah Tuwo mengatakan, beberapa KEK yang tengah dikaji tersebut sudah memiliki rencana investasi. Kuala Tanjung, misalnya, ditargetkan menarik investasi hingga Rp94 triliun. “Pulau Asam Karimun Rp10 triliun, Merauke Rp926 miliar, dan Galang Batang Rp36,25 triliun,” kata Lukita.

Lukita dan timnya sebelumnya sudah ke Batam. Mereka memetakan kawasan mana saja yang akan dijadikan KEK. “Kami belum bisa memetakan mana saja yang akan dibentuk menjadi KEK. Sekarang ini kami masih meminta masukan kepada semua pihak yang nantinya akan disampaikan kepada DK PBPB,” kata Lukita di Batam, pertengahan bulan lalu.

Sebab itu, ia mengaku saat ini pihaknya masih terus meminta masukan sebelum nantinya disampaikan kepada DK PBPB Batam dan kementerian terkait. KEK menjadi pilihan untuk masa depan yang lebih baik. Hanya saja untuk zonanya tergantung industri apa yang layak didorong tanpa mengurangi industri yang ada saat ini.

“Yang jelas untuk investasi ke depan kita juga harus meningkatkan industri kita, supaya bisa juga bersaing dengan kawasan industri yang ada di negara lain,” katanya.

Percepat Pembangunan Infrastruktur
Sementara di bagian lain, pemerintah juga terus mempercepat pembangunan proyek infrastruktur untuk menopang KEK. Di KEK Bitung, misalnya, Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) tengah menelusuri kesiapan infrastruktur, termasuk pelabuhan internasional Bitung dengan perkiraan investasi senilai Rp34 triliun.

“Keberadaan pelabuhan hub internasional Bitung akan mendukung kawasan timur Indonesia meliputi Maluku dan Kalimantan,” kata Direktur Sektor Transportasi KPPIP Dwianto Eko, kemarin.

Eko mengakui, proyek KEK Bitung masih terganjal dengan masalah lahan. Tahap konstruksi yang ditargetkan sejak 2014 disebutnya hingga kini belum terlaksana karena lahan KEK yang dimiliki negara dihuni oleh penduduk. Dia pun berharap persoalan ini bisa segera diatasi sehingga KEK bisa menjadi solusi untuk mendorong perekonomian nasional.

Sementara di KEK yang telah beroperasi, investasi mulai masuk. Di KEK Tanjungkelayang, Belitung, yang fokus pada sektor pariwisata, misalnya, kebanjiran investasi senilai USD1,06 juta atau setara Rp14 triliun dalam bentuk pelabuhan dan hotel.

Diketahui, BUMN asal China, China Harbor Engineering Company, berkomitmen menanamkan modal USD1 miliar atau setara Rp13,3 triliun untuk membangun pelabuhan. Sementara itu, Accor Asia Pasific (Sofitel) dan Starwood Asia Pasific Hotels and Resort (Sheraton) berencana membangun hotel dan resor dengan investasi masing-masing senilai Rp400 miliar dan Rp418 miliar.

Apabila komitmen tersebut terwujud, jaringan hotel dan resor internasional seperti Sheraton dan Sofitel akan menjadikan Belitung dikenal di mancanegara. Artinya, akan semakin banyak turis mancanegara ke Indonesia, khususnya ke Belitung. Tidak hanya itu, bila badan pengelola KEK aktif menggaet investasi, pembangunan di daerah tersebut bisa cepat karena memberikan nilai tambah. Selain itu, kesenjangan pun akan berkurang lewat penyerapan tenaga kerja yang dihasilkan dari investasi.

Terkait dengan itu, pemerintah pusat berharap agar pemerintah daerah bisa melakukan koordinasi untuk mempercepat proyek-proyek infrastruktur di sekitar KEK. Pemerintah berkomitmen mempercepat pembangunan dan penyempurnaan berbagai infrastruktur jalan, jaringan air bersih, listrik, untuk mendukung masuknya investasi.

Loading...

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com