SINDOBatam

Terbaru Spirit+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Lestarikan Tradisi Melayu, Lampu Colok Meriahkan Idul Fitri

  • Reporter:
  • Senin, 19 Juni 2017 | 12:50
  • Dibaca : 185 kali
Lestarikan Tradisi Melayu, Lampu Colok Meriahkan Idul Fitri
Sabari Basirun bersama dengan ketua Pemuda dengan latar belakang lampu colok pada gapura di lingkungan Kampungbanjar, Sabtu (17/6).abdul gani

MERAL – Tradisi turun temurun masyarakat Melayu di Kabupaten Karimun sejak lama terus dilestarikan, saat 10 hari terakhir ramadan atau menyambut datangnya Idul Fitri, yakni dengan pemasangan lampu colok atau lampu pelita di kampung-kampung.

Hal itu sebagaimana yang dilakukan masyarakat di Kampungbanjar Kelurahan Parit Benut Kecamatan Meral, dengan memasang 5.000 buah lampu colok dan akan ikut dalam festival lampu colok yang digelar Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Karimun. Cahaya redup dari lampu colok berbahan bakar minyak tanah dan dibuat dari kaleng bekas minuman ringan atau minuman beralkohol membuat suasana menyambut Idul Fitri makin semarak. Dulu lampu colok hanya dipasang di sekeliling rumah-rumah masyarakat, menerangi kediaman masing-masing. Tapi seiring berjalannya waktu akhirnya dilombakan dalam bentuk gapura dengan pemasangan ribuan lampu colok seperti di Kampungbanjar.

“Ini tradisi kami masyarakat Melayu turun temurun di Kabupaten Karimun. Selain itu juga sebagai salah satu syiar Islam juga,” ujar Sabari Basirun selaku penanggungjawab lampu colok Kampung Banjar Kelurahan Parit Benut saat melakukan uji coba penyalaan lampu colok, Sabtu (17/6) malam.

Dia menjelaskan, pemasangan lampu colok diistilahkan dengan nama tujuh likur dan dipasang mulai malam ramadan ke 21 atau malam ke 27. Sedangkan filosofi dari tradisi lampu colok, kata dia, untuk memeriahkan akhir ramadan, selain itu sebagai tanda penerang hati.
Menurut dia, orang tua jaman dulu menyebutkan bahwa lampu colok sebagai penerang hati pada bulan baik dan hari baik ini.

“Begitupun saat datangya Idul Fitri, maka dimeriahkan dengan lampu colok. Maksudnya adalah satu syawal ini hati kita jadi bersih. Kita membawa hati kita agar lebih baik, supaya diterangkan jalan menuju keberkahan,” katanya.

Abang kandung Gubernur Kepri Nurdin Basirun ini juga mengharapkan agar Dinas Pariwisata dan Seni Kabupaten Karimun meningkatkan lagi hadiah di tahun mendatang. Karena jika dibandingkan antara pengeluaran dengan hadiah menurutnya tidak sebanding.

Ketua Pemuda Kampungbanjar Kelurahan Parit Benut Kecamatan Meral Rino mengatakan, jumlah 5.000 lampu colok yang dipasang membutuhkan sedikitnya satu drum setengah minyak tahan dalam satu malam. Sedangkan harga minyak tanah satu drum 200 liter senilai Rp900 ribu.

“Malam ini kami tidak nyalakan semua, hanya yang di gapura saja sebanyak 1.500 sebagai ujicoba saja. Untuk melihat apa saja yang masih kurang sehingga saat malam penilaian atau pada malam ke 27 ramadan nanti sudah siap untuk dinilai,” ujar Rino.

Lampu colok yang dipasang pada gapura itu membentuk sebuah ornamen kuba masjid. Rencananya menyala secara berturut-turut sampai malam takbiran Idul Fitri yang dimulai pada 21 Juni mendatang. Lampu colok juga tampak di beberapa titik sekitar Kecamaan Meral. Seperti di Kampung Jawa Kelurahan Sungairaya, Sungaiayam Kecamatan Karimun, Lubuk Semut Kecamatan Karimun, Kelurahan Teluk Air Kecamatan Karimun, Jalan Coastal Area Kecamatan Karimun, Kampungbaru Tebing Kecamatan Tebing, Leho serta di lapangan sepak bola Teluk Uma, Depan SMA Mahabodhi.

Loading...

1 Komentar

  1. Martha Al_faris Senin, 19 Juni 2017

Theme Portal Berita TUX_URL.com