SINDOBatam

Terbaru Spirit+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Listrik di Desa Tebias Menyala Hanya Lima Jam Sehari

  • Reporter:
  • Jumat, 9 Juni 2017 | 13:19
  • Dibaca : 148 kali
Listrik di Desa Tebias Menyala Hanya Lima Jam Sehari
ilustrasi

BELAT – Desa Tebias di Kecamatan Belat masih terisolir dan minim infrastruktur memadai. Meski sudah lima tahun dimekarkan dari Kecamatan Kundur Utara, hingga kini belum ada tanda-tanda adanya perubahan yang signifikan. Salah satunya ketersediaan listrik yang belum menyala 24 jam.

Rasimun, salah seorang masyarakat Desa Tebias mengatakan, listrik di tempatnya hanya teraliri selama lima jam setengah dalam sehari. Nyala mulai pukul 17.30 dan mati pada pukul 23.00.

“Pas kebetulan aja puasa Ramadan, listrik nyala pukul 03.00 saat akan sahur. Setelahnya pukul 05.00 kembali mati. Kami maunya minimal nyala full malam hari sampai pagi. Syukur-syukur bisa 24 jam,” harap Rasimun ditemui di sela-sela kunjungan safari Ramadan Wakil Bupati Karimun Anwar Hasyim di kampung halamannya, tepatnya di Masjid Jami’ Al Mujahidin, Selasa (6/6) lalu.

Dari jadwal nyala listrik tersebut, masyarakat yang menikmati diwajibkan membayar iuran per bulan Rp120 ribu. Dana tersebut digunakan membeli bahan bakar minyak (BBM) jenis solar untuk mesin pembangkit listrik.

“Kami masih pakai PLTD (pembangkit listrik tenaga diesel), makanya bayar bulanannya lumayan mahal. Kalau warga menggunakan kulkas biayanya nambah lagi. Penambahan macam-macam peralatan elektronik dihitung per item sebesar Rp15.000,” terang warga yang tinggal RT 002 RW 003 ini.

Meski kondisi listrik yang masih jauh dari harapan sejak disediakan pemerintah pada 2012 silam, namun yang menikmatinya cukup banyak. Ada 259 kepala keluarga di Desa Tebias atau sekitar 917 jiwa. Sebelum adanya PLTD, warga sekitar menggunakan lampu minyak tanah atau lampu colok.

Wakil Bupati Karimun Anwar Hasyim membantah jika Desa Tebias dikatakan masih terisolir. Menurut dia, desa yang masuk wilayah Kecamatan Belat dan merupakan kecamatan pemekaran itu masih sangat baru, sama seperti Kecamatan Ungar dan Meral Barat, sehingga memang perlu perhatian serius.

“Saya kira tidak seperti itu, kondisi anggaran Pemkab Karimun kan memang terbatas jadi kami bagi-bagi. Di sini (Desa Tebias) bukan sama sekali tidak ada bantuan, tapi ada bidang-bidang yang dapat kami berikan bantuan,” ujar Anwar menjawab keluhan warga Desa Tebias.

Soal listrik yang masih jauh dari harapan, Anwar mengakui memang kelistrikan menjadi prioritas utama di Desa Tebias Kecamatan Belat. Namun, kata dia, Pemkab tidak dapat mengakomodir permintaan warga karena merupakan wewenang dari PLN.

“Kalau kami sediakan mesin genset justru waktunya pun tetap saja terbatas karena keterbatasan biaya pembelian BBM, yang semuanya ditanggung masyarakat,” katanya.

Sayangnya, Anwar tidak dapat menjanjikan sampai kapan kondisi tersebut akan berakhir.

Loading...

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com