SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Menohok Krisis Ekonomi Batam

Menohok Krisis Ekonomi Batam
ilustrasi

Belajar dari kegagalan Foxcon 

Siapa yang tidak kenal dengan Foxcon(Hon Hai Group). Pabrikan atau perakit elektronik terbesar di dunia ini, berpusat di Taucheng, Taiwan. Omset per tahunnya diatas USD 59,32Miliar. Total pekerjanya saja lebih dari 1,3juta. Dengan raihan laba tiap tahunnya lebih dari USD 3 Miliar. Pabrik raksasa (Mega Manufacturer) ini memproduksi segala jenis perangkat keras elektronik dari berbagai merek. Mulai dari sekedar chip, connector, PCB, sub assy hingga finish good. Sebut saja end produk berupa play station, dual display, touch screen, Iphone, ipad,POS, printer, edc, scanner dan masih banyak lagi, semuanya bisa dirakit. Yang paling tersohor memang adalah produk iphone dan ipad yang merajai pasaran dunia. Di Tiongkok, Foxcon berdiri layaknya sebuah otoritas kota tersediri dan mandiri. Menjadi sebuah entitas living city, dimana seluruh kebutuhan security, sosial, welfare, kesehatan apalagi ekonomi bagi warganya, sudah sepenuhnya dapat dipenuhi. Bukan sekedar sebuah industrial park yang kebanyakan kita ketahui selama ini.

Pada medio 2011 lalu, Foxcon sebenarnya pernah ada rencana untuk investasi di Indonesia. Kota tujuan juga cukup banyak alternatifnya. Dengan rencana total investasi USD 10 miliar(135 triliun rupiah). Diperkirakan pada kapasitas terpasang maksimal nantinya, Foxcon akan menyerap tidak kurang dari 150ribu pekerja. Namun, apa mau dikata, rencana tinggal wacana. Pemerintah gagal menego Foxcon terutama untuk memenuhi 2 persyarat dasar yakni pembebasan Bea Masuk dan konsensi fasilitas lahan secara gratis seluas 100 Ha. Tatkala pemerintah lengah, India malah menyergap. Lalu berdirilah Foxcon di Sri city India diatas lahan tidak kurang dari 1500Ha. Bukan hanya 100Ha seperti yang diminta foxcon kepada Indonesia. Kini Sri city foxcon India tengah menjadi Icon pabrikan smart Phone India MI dan dan mendunia. Sejak saat itu, hingga saat ini, Foxcon tidak kunjung jua kembali ke Indonesia.

Cerita Manis Dari Lion Air : Rusdi Kirana Kepincut Ke Hang Nadim
Lion air adalah pahlawan bagi Batam. Di masa depan, top leader Lion air, Rusdi Kirana, akan mengubah wajah Hang Nadim dan Batam, sebagai Icon dan sentra industri penerbangan dan angkutan udara nasional. Sebenarnya, Ada cerita pahit bagi lion sebelumnya. Yakni Ketika Lion Air gagal membangun MRO industry di bandara sam ratulangi, Menado. Padahal sudah melakukan ground breaking dengan sang Gubernur Sulut kala itu. Akar masalahnya adalah ketika PT. Angkasa Pura sebagai penguasa bandara Sam Ratulangi kemudian hari ternyata justru meminta stok opsi sebesar 51%. Sesuatu yang tidak pernah diduga sebelumnya oleh Rusdi Kirana. Tentu Ini mustahil sekali. Dalam kondisi Limbung dan terbilang terkatung katung, Rusdi kirana hampir saja hengkang ke Subang, Malaysia. Karena otoritas Subang, Malaysia melobi dengan memberikan segala insentif yang diminta oleh Rusdi Kirana.

Walaupun demikian menggiurkan Rayuan Malaysia, faktor muatan lokal dan mimpi untuk pemberdayaan terhadap industri penerbangan nasional masih saja tetap mengganjal bagi top manajemen lion. Untung saja, Pemerintah RI dan BP Batam dapat merayu lion air hingga sign aggrement di Hang nadim dengan konsensi 28 Ha. Pembangunan MRO bagi Lion air di bawah PT, Batam Aero Technic di Hang nadim, jelas jelas akan bersinergi dengan kebijakan perusahaan yang menetapkan Hang nadim sebagai Hub connection penerbangan domestic di bagian barat Nusantara. Selain juga akan mengembangkan rute penerbangan internasional jarak menengah ( middle Hole) di Asia seperti ke Korea, Jepang, China, hingga timur tengah nantinya.

Belakangan, Hang nadim juga ternyata diminati oleh Garuda maintenance facility(GMF) dan Nam Sriwiya dalam bidang industri MRO. Dengan konsensi tambahan tidak kurang dari 20 Ha. Sehingga, Prediksi kasarannya pada tahun 2025, Hang Nadim MRO city diproyeksikan akan menyerap tidak kurang dari 40 ribu pekerja middle skill ke atas, dengan gaji bulan minimal 8-10 juta rupiah per bulannya. Hang nadim sendiri akan bertransformasi menjadi Aeromari City. Sebuah aerotropolis atau kota bandara yang terinterkoneksi dengan kota pelabuhan laut (Maritim city) di kawasan kabil. Nantinya, Pelabuhan laut dan udara ini terintekoneksi dengan rel kereta api, baik untuk lalu lintas penumpang maupun kargo.

Pendek Kata, Lion Air adalah cerita sukses dan manis yang menghantarkan Batam kepada era dan harapan baru. Ini adalah bukti dari konsistensi dan ambisi otoritas publik dalam melakukan terobosan(Breakthrough) dan menggoalkan sebuah peluang. Nantinya, diharapkan di kawasan hang nadim akan diperlengkapi dengan shoping arcade, rumah sakit, dan light-mediaum industri. Yang paling penting adalah secara kontinue mampu menarik operator atau investor industri pesawat dunia lainnya untuk berinvestasi di Hang Nadim. Seperti roll Royce, Boeing, Airbus, General Electric, Bell Helicopter, Casa dan lain sebagainnya.Sehingga nantinya, bukan saja jasa MRO yang dikelola, tetapi juga assembly line dan sub assy component pesawat udara. Sekali lagi, industri pesawat udara adalah sektor industri unggulan baru dan masa depan bagi Batam yang juga akan mendorong industri pelabuhan laut ikut terseret dan bergerak maju.

Batam Butuh Foxcon, dan Lainya
Sektor industri galangan dan kontruksi supply migas(offshore) masih akan terus kelabu dan sulit untuk mengalami leverasi hingga 1 tahun ke depan . Pertumbuhan yang negatif ini merupakan efek domino dari kondisi krisis global, terutama penurunan harga minyak dunia. 70% loading industri ini bersumber dari demand manca Negara, dosmetik hanya 30% saja. Sehingga walaupun pada regim Jokowi saat ini, demand industri dari domestik meningkat, namun tetap saja tidak mampu membalikkan keadaan. Satu catatan penting memang adalah : Pertama : kealfaan kita dalam hal membangun loading bay untuk fasilitas perbaikan kapal dalam DWT besar atau raksasa seperti carier dalam skala ULCC dan VLCC. Kedua : Belum terbangunnya fasilitas processing, refinery dan kilang Migas di area batam. Karena terbangunnya fasilitas ini akan menjadi magnet bagi terbangunnya fasilitas lainnya yang menjadi supporting dan down stream industri migas seperti produksi, transportasi dan distribusi, industri petro kimia dengan berbagai produk turunan(offspring) yang dihasilkannya. Sayang sungguh sayang memang, mengapa ARAMCO justru membangun kerajaan industri migasnya di pangerang-Johor Bahru. Bukan Di Batam. Padahal investasinya cukup fantastis, yakni USD 6miliar atau sekitar 81 triliun rupiah.

Sementara menunggu sektor unggulan lainnya bangkit, maka sektor unggulan lawas bisa menjadi pilihan mujarab. Batam telah pernah menikmati manisnya industri elektronik pada era tahun 1990-an. Bahkan, Batam menjadi icon dunia pada saat itu . Belajar dari kegagalan menggaet foxcon di masa lalu, maka otoritas yang ada yakni kemetrian dan BP batam dapat merayu kembali foxcon di tiongkok sana untuk mau berinvestasi kembali di Batam. Batam sangat siap dan mampu memenuhi permintaan insetif sebagaimana dipersyaratkan oleh foxcon pada masa lalu.

Mengapa??Pertama : Batam memiliki fasilitas FTZ, dimana insetif pembebasan PPN dan Bea masuk bukan soal baru di Batam. Hal ini dapat diberikan dengan mudah . Kedua : Soal Lahan Gratis seluas 100 Ha juga adalah hal yang realistis bagi batam untuk dipenuhi. Hal ini mengingat lahan masih tersedia sangat luas untuk dialokasikan bahkan masih tersedia di area yang terbilang sudah matang seperti di area bandara Hang nadim yang memiliki konsensi 1760Ha lebih. Maka untuk pengadaan 100 Ha lahan sesuai permintaan bukanlah sesuatu yang mustahil. Soal recovery atau konversi biaya pengadaan lahan yang timbul, tentu juga bukan hal yang sulit. Pemerintah dapat menawarkan beberapa skema dan mekanisme yang tidak mengingkari perjanjian dan kesepakatan dengan foxcon.

Ketiga: Batam juga telah mengeluarkan kebijakan untuk pembebasan pengeluaraan barang ke luar daerah pabean lainnya. Sehingga produk elektronik yang diproduksi Foxcon nantinya, dapat langsung dikirim dan dipasarkan ke Indonesia . Tanpa harus di kirim kembali ke tiongkok sana atau ke distribution centernya di Asia. Hal ini akan memberikan pengurangan biaya yang cukup signifikan bagi foxcon dalam hal biaya logistik dan transportasi produk. Penghematan ini akan sangat signifikan, mengingat Indonesia adalah salah satu tujuan ekport utama dari produk produk elektronik yang diproduksi oleh Foxcon.

Bayangkan betapa manisnya, bila investasi sebesar USD 10 miliar(135 triliun rupiah) masuk ke Batam. Tenaga yang kerja yang diserap diperkirakan tidak kurang dari 150ribu pekerja. Transfer payment gaji bulanannya saja tidak kurang dari 6triliun rupiah, hanya dengan asumsi gaji 4 juta rupiah per kepala. Belum lagi belanja modal berupa pembangunan pabrik modern diperkirakan mencapai USD 1 milair(13,5 triliun rupiah) . Ratusan bahkan ribuan supplier akan ikut tumbuh untuk ikut menikmati manisnya “Madu’ Foxcon ini.

Mulai dari supplier packaging, moulder plastic cover, stamping dan extrusion material, die casting, mekatronik sub asy, PCBA, hingga kepada jasa utilitas, stationary dan catering. Semuanya akan menggeliat dan mengubah batam dari resesi kepada recovery.

Untuk dapat bangkit, Batam tidak saja membutuhkan Foxcon . Batam juga membutuhkan sektor lainnya agar ikut bangkit dan menjadi unggulan. Ekonomi Batam akan semakin dan tambah menggeliat dengan konsistensi pertumbuhan sektor unggulan lainnya yakni MRO Bandara Hang Nadim, jasa transitee dan pelabuhan Laut Batu Ampar. Khusus untuk pelabuhan batu ampar sendiri, kita menunggu hasil pemenang tender pembangunan pelabuhan dermaga utara dengan konsensi 10Ha senilai 1,7 Triliun rupiah.

Bila terealisasi, maka akan menjadi sektor industri unggulan baru bagi Pulau Batam. Untuk sektor galangan kapal sendiri, maka pemerintah diharapkan melakukan deregulasi sektor minerba, mendorong relokasi industri galangan dari singapura. Bagi pelaku industri galangan sendiri diharapkan dapat meningkatkan sekala usaha dan teknologynya untuk dapat melakukan pekerjaan yang besar dan lebih modern. Dalam hal ini maka upaya penggabungan usaha (merger) diharapkan dapat menjadi salah satu solusi.

Tulisan ini memang diturunkan agar kita memiliki passion atau ambisi yang jelas dalam situasi krisis ekonomi Batam saat ini. Yakni bagaimana membalikkan kondisi pertumbuhan negatif untuk menjadi positif secara signifikan. Hal yang paling perlu hindari adalah tendensi dan kongklusi yang menyebutkan bahwa kondisi saat ini adalah sesuatu yang lumrah dan seolah hanya waktu yang bisa menjawab dan mengubahnya. Tentunya sukses recoveri ekonomi mensyaratkan harus adanya sinergi dan bahkan fusi(fusion) dari seluruh pemangku kekuasaan publik di Batam dan provinsi Kepulauan Riau. Jadi, Mari bersama sama menohok krisis ekonomi Batam!!!.

Oleh : Djasarmen Purba, SH.
(Senator/Anggota MPR RI/DPD RI Dapil Kepulauan Riau )

Loading...

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com