Sindo Batam

Pengrajin Rotan di Bintan Sulit Cari Bahan

  • Reporter:
  • Jumat, 16 Juni 2017 | 13:27
  • Dibaca : 44 kali
Pengrajin Rotan di Bintan Sulit Cari Bahan
Adi dan Unyil membuat keranjang rotan di rumahnya Kampung Bangse, Desa Penaga, Teluk Bintan, Rabu (15/6).m rofik

TELUK BINTAN – Andrian alias Adi (42) dan Azli alias Unyil (32), dengan tekun menganyam rotan untuk dijadikan keranjang. Setelah anyaman keranjang terbentuk, diambilnya nibung dan kawat kemudian dieratkannya dengan alat press.

“Nibung ini untuk pembingkaian. Dipress agar kuat dipakai selama empat hingga enam tahun,” ujar Adi ditemui di Kampung Bangse, Desa Penaga, Batu 43 Jalan Lintas Barat, Rabu (14/6).

Adi menceritakan, proses membuat satu keranjang memakan waktu dua hari. Diawali proses mencari rotan lalu dibelah, disisrik dan dikerik dibersihkan dari kotoran. Rotan Kemudian dijemur di terik matahari. Sedangkan batang nibung, bahan untuk membingkai juga dicari di hutan, dibelah lalu dijemur di terik matahari hingga kering. “Rotan dan batang nibung ini kami cari di hutan, walaupun mencari di hutan tetapi kami tetap saja membeli kepada pemilik lahannya. Karena hutan ini milik warga,” katanya.

Untuk membuat satu keranjang rotan, dirinya haru mengeluarkan modal Rp80 ribu untuk membeli bahan baku rotan dan batang nibung. “Kami menjual keranjang dengan harga Rp450 ribu tiap unitnya,” terangnya.

Saat ini, kata dia, cukup susah mencari rotan dibandingkan sepuluh tahun lalu. Harus berjalan lebih jauh, dan waktu lebih lama. “Dulu, masuk hutan sejauh 200 meter atau dalam waktu dua puluh menit sudah dapat rotan. Kalau sekarang berjalan setengah kilometer atau empat puluh menit, belum tentu dapat,” ungkap bapak dua anak ini.

Dalam hal menjual, dia tidak mengalami kendala berarti. Karena dirinya jadi pengrajin keranjang sudah selama 14 tahun dan dikenal masyarakat Kecamatan Teluk Bintan, Seri Kuala Lobam, Bintan Utara dan Teluk Sebong.

“Pesanan datang terus. Karena mereka sudah mengenal kualitas keranjang kami. Karena kami press jadi lebih awet dua tahun dibandingkan keranjang rotan umumnya,” ujarnya.

Dia dan rekannya mampu memproduksi keranjang rotan 14 unit dalam sebulan. Dengan harga penjualan saat ini penghasilannya berkisar Rp100-120 ribu per hari. “Dengan penghasilan segitu saya bersyukur karena kami bekerja pada diri sendiri tidak diperintah orang lain,” katanya.

Sedangkan Unyil, yang baru setengah tahun menjadi anak buah Adi mengatakan, cara mempromosikan keranjang rotan hasil anyamannya hanya dengan memajangnya di pinggir Jalan Lintas Barat.
“Dipajang di pinggir jalan, sambi menjemurnya,” kata Unyil.

Share Berita Ini

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com