Sindo Batam

Pernah Difitnah dari Klien hingga Dapat Bunga di Persidangan

  • Reporter:
  • Selasa, 30 Mei 2017 | 14:26
  • Dibaca : 99 kali
Pernah Difitnah dari Klien hingga Dapat Bunga di Persidangan
John Ferry Situmeang, Direktur LBH Mawar Saron. Foto Teguh Prihatna.

Lebih Dekat John Ferry Situmeang, Direktur LBH Mawar Saron

Suka dan duka mewarnai perjalanan John Ferry Situmeang selama berkarier di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mawar Saron. Pernah dapat fitnah dari klien hingga ucapan terima kasih berupa bunga yang diberikan terdakwa wanita di persidangan.

Batam tampak sepi saat KORAN SINDO BATAM menyambangi kantor pengacara kondang Hotma Sitompul tersebut, pekan lalu. Hanya ada dua pegawai, salah satunya petugas keamanan berada di balik meja.

Menuju lantai dua, terdapat anak tangga berlantai kayu di bagian belakang gedung tiga lantai tersebut. Tepat di depan anak tangga, pintu kaca terbuka lebar. Di balik pintu, seorang pria berkemeja berwarna putih terlihat sibuk menerima telepon. Sesekali jemarinya merapikan meja kerja di depannya.

Ruangan berukuran sekitar 4,5 x 3 meter itu terasa lapang dengan warna yang lembut dan suhu ruangan yang dingin. Pintu kaca juga terlihat di bagian belakang ruangan, tepat di belakang meja kerja, membelakangi balkon.

Tak banyak perabotan yang ada di ruang John Ferry Situmenang, Direktur LBH Mawar Saron Batam tersebut. Hanya ada satu lemari di sudut kiri yang berisi beberapa buku, meja panjang, kursi kerja, dan satu gantungan kayu berisi beberapa setelan jas.

Di sudut kanan depan terdapat satu meja laci berukuran kecil. Sementara di sudut kiri depan, kursi tamu yang tidak terlalu besar terletak di sana.

“Sorry ya, ruangannya sedikit berantakan. Biasalah, kalau saya lagi banyak kerjaan, tidak sempat beres-beres,” kata pemilik ruangan saat memulai pembicaraan.

Sempat duduk sejenak, John beranjak untuk membuka pintu yang berada di belakang meja kerjanya dan menghadap ke balkon. Angin segar langsung masuk ke ruangan itu.

“Saya lahir dan besar di Tarutung, Sumatera Utara. Bapak saya lulusan SD dan PNS di Kantor Kecamatan. Ibu saya pedagang warung kelontong,” kata John menceritakan masa kecilnya.

Sempat menghabiskan masa kecil hingga remaja di Tarutung, John akhirnya memutuskan untuk merantau ke Jakarta usai lulus SMA. Di Jakarta, anak bungsu dari enam bersaudara ini awalnya tak memiliki aktivitas berarti.

“Yang penting merantau saja, daripada di kampung, begajulan, nyusahin orangtua,” katanya.

Setelah beberapa waktu menetap di ibukota, tiba-tiba John berkeinginan untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Dia ingin kuliah di ilmu hukum.

“Awalnya tidak kepikiran untuk kuliah. Tapi lama kelamaan, muncul niat dan tertarik ke hukum,” katanya.

Tahun 2007, John tercatat sebagai mahasiswa fakultas hukum Universitas Tama Jagakarsa. Sembari kuliah, John bekerja sebagai debt kolektor di salah satu Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Duduk sebagai mahasiswa hukum membuat John memiliki berbagai pilihan. Mulanya ia bimbang antara menjadi hakim, jaksa, atau pengacara. Namun memasuki semester empat, John memantapkan pilihannya sebagai pengacara.

“Karena prinsipnya, saya adalah tipe orang yang tidak suka pemikirannya diatur. Saya suka bebas berpikir,” kata John.

John mulai meniti karier sebagai seorang pengacara di kantor pengacara senior Bonaran Situmeang. Namun, sejak kuliah, dia sudah berkeinginan menjadi bagian dari LBH Mawar Saron. LBH ini dinilai sebagai tempat yang tepat untuk mengaplikasikan ilmu dan membantu orang.

“Pengacara yang ada di Mawar Saron juga merupakan orang-orang pilihan,” ujarnya.

Keinginan John terkabul. Dia berhasil melewati 500 kandidat lainnya saat penerimaan pengacara di Mawar Saron. Tes terakhirnya dilakukan langsung oleh Hotma Sitompul.

“Beliau (Hotma) tidak menilai ilmu kita, tapi perilaku kita. Cara tesnya sangat simpel. Kita disuruh masuk ke ruangannya dan dibiarkannya selama lebih kurang setengah jam. Saat itulah beliau menilai kita, apa yang kita lakukan sembari menunggu beliau mengajak kita berbincang,” kenang John.

Sebagai seorang pengacara yang baru bergabung di Mawar Saron sejak 2013, John selalu berusaha profesional. Kariernya terus menanjak dan dipercaya menjadi Wakil Kepala Divisi di Jakarta. John juga sempat dipercaya menjadi Wakil Direktur LBH Mawar Saron Solo, sebelum akhirnya menjabat Direktur LBH Mawar Saron Batam di awal 2016.

Selama berkecimpung di dunia advokasi, banyak pengalaman indah dan juga pahit yang tak terlupakan. John, yang dikenal sangat tegas di persidangan, pernah menerima bunga dari terdakwa yang dibelanya, usai persidangan.

“Klien saya itu perempuan. Dan setelah sidang, saya dikasih bunga. Katanya sebagai bentuk ucapan terima Kasih. Kasihnya di ruang sidang,” kata John sembari tertawa ringan.

Tak hanya pengalaman manis, John juga sempat menerima pahitnya fitnahan klien. Bukan mendapatkan ucapan terima kasih, John malah dituduh hendak mengambil keuntungan dari perkara yang ditanganinya.

“Tapi hal seperti itu biasa. Tidak semuanya yang kita hadapi itu yang manis-manis saja. Yang jelas, kita sudah berusaha berbuat yang terbaik,” ujar pria yang hobi olahraga renang dan sepakbola ini.

Selama bertugas di LBH Mawar Saron, John memiliki kebanggaan tersendiri. Kedekatan yang dirasakannya dengan Hotma seperti kedekatan seorang anak dan ayah.

“Beliau tidak pernah menganggap kita seperti orang lain, tapi seperti keluarga. Kita tidak hanya diajari cara menghadapi perkara, tapi juga cara menghadapi kehidupan,” kata John.

Hal itu juga yang dibawa John saat dirinya menjabat sebagai direktur. Ia selalu menganggap bawahan sebagai teman dan tim. Prinsip John, “Kalau semua orang bisa dijadikan saudara, kenapa harus dijadikan musuh.”

Keramahan dan sikapnya yang supel mempertemukan John dengan Nani Pratiwi Sihombing. Wanita yang satu kampung dengannya ini dinikahi John pada 23 November 2016 lalu di kampung halaman mereka, Tarutung.

“Saya dulunya suka ngeledekin orang yang umurnya sudah lumayan banyak, tapi belum married juga. Dan akhirnya, kena ke saya. Umur 27 tahun, saya sudah sering ditanya keluarga. Sempat bingung juga karena saya tidak ada niat untuk pacaran. Saya cerita ke teman dan dikenalkan dengan istri saya ini. Setelah kenal dan dekat, saya merasa cocok dan saya nikahi,” cerita John.

Menurut John, ia adalah sosok suami yang romantis bagi sang istri yang merupakan pegawai bank swasta di Jakarta ini. Ia selalu berusaha menciptakan suasana-suasana romantis saat bersama Nani. Tak heran, postingan John lebih dihiasi dengan foto-foto bersama sang istri di akun media sosialnya.

“Yang saya paling suka dari istri saya itu, senyuman dan masakannya. Senyumannya itu bisa buat semua capek saya hilang. Dan masakannya enak sekali. Lihat saja, saya makin gemuk setelah menikah,” kata John sembari melihat ke arah perut yang sedikit membuncit.

Sebagai pria yang sukses di karier dan percintaan, John mengaku ingin memiliki empat orang anak, dua perempuan dan dua laki-laki.
“Biar ramai. Semoga aja dikasihnya seperti itu,” kata John.

Meskipun telah menjadi pribadi yang sukses, namun John tetap memegang pesan yang ayah. Kepadanya, sang ayah pernah berpesan agar terus menjadi pribadi yang baik.

“Pesan bapak, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, tapi balaslah dengan kebaikan. Kalau pesan ibu, jangan menunda pekerjaan. Dan itu yang selalu saya terapkan sampai saat ini,” tutup John.

Share Berita Ini

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com