Sindo Batam

Sehari, 15 Pasutri di Batam Ajukan Perceraian

Sehari, 15 Pasutri di Batam Ajukan Perceraian
ilustrasi

SEKUPANG – Menurunnya tingkat perekonomian tak hanya memicu angka pengangguran. Tingkat perceraian akibat masalah ekonomi juga turut meningkat saat ini. Pengadilan Agama Kelas I Kota Batam mencatat mayoritas permohonan cerai yang masuk adalah karena alasan eknomi.

“Penyebab utama perceraian ada dua. Yang paling besar adalah karena masalah kenomi, kemudian karena orang ketiga. Alasan lain sangat kecil,” kata Panitera Muda Pengadilan Agama Kelas I Kota Batam, Badrianus di Kantor Pengadilan Agama Batam, Senin (5/6).

Dia tak menampik, peningkatan angka pengangguran dan lesunya ekonomi Batam berkorelasi dengan angka perceraian. “Apalagi sekarang banyak perusahaan tutup,” ujarnya.

Tahun 2016 silam, Pengadilan Agama memutus 1.968 perkara. Meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 1.891 perkara yang diputus. Sejak Januari silam, setidaknya ada 15 perkara perceraian yang diterima pengadilan agama setiap harinya. Kebanyakan berkas perceraian yang masuk adalah cerai gugat, yang diajukan oleh pihak isteri. Sementara yang dimasukan oleh pihak suami, atau cerai talak jumlahnya sangat sedikit. “Mayoritas karena masalah ekonomi,” katanya.

Namun angka tersebut turun drastis pada bulan Ramadan ini. Berkas perkara yang masuk hanya sekitar 4 setiap harinya. Seminggu awal puasa ada 21 berkas yang masuk dan 14 di antaranya adalah cerai gugat, sedangkan tujuh lainnya cerai talak.

Psikolog Batam, Fetty Nurhidayati mengatakan, faktor ekonomi merupakan alasan dominan perceraian. Apalagi ketika pemasukan semakin kurang, sehingga membuat banyak tuntutan ekonomi di keluarga yang tak terpenuhi.

Kondisi ini kerap sekali meningkatkan tingkat stress dalam keluarga. Tak jarang yang jadi memicu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Jika sudah sampai ke fase ini, biasanya akan berakhir kepada perceraian. “Kondisi eknomi yang sulit saat ini bikin besar pasak daripada tiang. Kalau tak disikapi hati-hati, bisa berbahaya,” kata Fetty.

Ada dua faktor besar yang menyebabkan hal tersebut. Profil perkawinan usia matang yang sangat minim. Bisa dikatakan, mayoritas pernikahan dilakukan di usia belum matang, sehingga kurang bijaksana mengelola keuangan keluarga.

Faktor lainnya adalah gaya hidup. Menurut dia, banyak tuntutan pengeluaran yang tidak lagi fokus kepada kebutuhan premier saja. namun sudah melebar kepada kebutuhan tersier, terutama untuk memenuhi gaya hidup. “Lifestyle di Batam juga cukup tinggi. Kalau orang punya, dia nuntut ke suaminya. Pengaruh gaya hidup memang mendorong perceraian karena faktor ekonomi,” katanya.

Share Berita Ini

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com