SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Stasiun Sacofa Akhirnya Rata dengan Tanah

Stasiun Sacofa Akhirnya Rata dengan Tanah
Stasiun Sacofa Akhirnya Rata dengan Tanah

NATUNA – Stasiun labuh fiber optik milik perusahaan Malaysia yang dianggap membahayakan Indonesia di Natuna rata dengan tanah. Pemerintah Indonesia akhirnya meruntuhkan bangunan yang dibangun sejak 2002 itu dengan alat berat, kemarin.

Tim pembongkaran menurunkan sebuah ekskavator untuk menumbangkan bangunan bercat krem milik perusahaan telekomunikasi Malaysia, Sacofa itu.

Sejumlah pejabat pusat dan daerah hadir menyaksikan bangunan itu diruntuhkan di Penarik sejak siang. Tampak pejabat yang mewakili sejumlah lembaga antara lain, Kemenko Polhukam, Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, Lembaga Sandi Negara, Kemenhub dan Kemenkominfo.

Sekretaris Deputi IV/Pertahanan Negara Kemenko Polhukam Laksamana TNI Semi Djoni Putra mengatakan langkah meruntuhkan fasilitas milik Sacofa ini mengacu keputusan Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan No. BX.164/2017. Surat mengganti surat persetujuan prinsip yang terbit 2012 lalu.

“Landing Station Serawak Gateway di Penarik Natuna dan Anambas telah melanggar aturan hukum. Pertama UU Indonesia dan kedua melanggar UNCLOS,” ungkap Semi yang juga ketua Tim Pembongkaran, kemarin.

Adapun salah satu poin pelanggaran hukum laut internasional UNCLOS terkait pembangunan kabel bawah laut di daratan negara lain. Sementara langkah penggusuran dari pemerintah Indonesia diambil setelah Sacofa tidak membongkar sendiri fasilitas itu sesuai dengan surat yang terbit 4 Mei 2017.

Semi mengatakan Serawak Gateway Sdn Bhd mendapat izin prinsip pembangunan kabel fiber optik bawah laut dan stasiun labuh di Indonesia pada 2002 silam. Dalam perjalanannya, keberadaan fasilitas komunikasi asing di dua kabupaten Indonesia paling utara itu dianggap membahayakan keamanan negara, di samping melanggar aturan.

Sejak 20 November 2016, pemerintah menyatakan fasilitas tersebut ilegal sampai pada akhirnya pada bulan April 2017 Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyegel stasiun sebelum diruntuhkan kemarin.

“Stasiun Sacofa tidak bermanfaat sedikitpun bagi rakyat, merendahkan harga diri dan melanggar kedaulatan Indonesia,” ujar Semi.

Adapun setelah diruntuhkan, seluruh fasilitas yang tersisa di stasiun labuh itu akan diserahterimakan ke Pemkab Natuna untuk segera diamanka TNI dan Polri. Kemenko Polhukan mempersilakan Pemkab memanfaatkan lahan eks-Sacofa ini selama sesuai mekanisme dan aturan.

“Jika lahan akan digunakan, pelajari dulu dasar hukumnya,” sambung Semi.

Sementara Sekda Natuna Wan Siswandi mengatakan dengan diserahterimakannya lahan berserta segala yang ada kepada pemerintah daerah, diharapkan tidak menjadi permasalahan di kemudian hari. “Kami hanya memfasilitasi segala yang diperlukan untuk keutuhan NKRI,” sebut dia.

Sebagai gambaran, stasiun labuh ini menghubungkan kabel serat optik bawah laut yang terpasang sejak 2004 dari peninsula Malaysia Barat (Mersing) ke Malaysia Timur lewat perairan Anambas dan Natuna.

Kabel serat optik bawah laut atau East-West Submarine Cable System (EWS) milik Sarawak Gateway. EWS menggunakkan dua stasiun darat di Natuna dan Anambas untuk memperkuat sinyal, menstabilkan bandwith dan memperluas jaringan internet serta komunikasi di Sarawak.

April 2017, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memblokir dan menyegel stasiun di Tarempa, Anambas dan Penarik, Natuna. Stasiun berpotensi menjadi instalasi strategis sebagai alat mata-mata. Ada kemungkinan bila kabel dikonstruksi dengan alat sensor menjadi pendeteksi kapal di permukaan dan kapal selam.

“Kabel fiber optik dan server langsung terkoneksi dengan satelit. Jika ditambah beberapa alat, teknologi stasiun ini bisa mendeteksi semua gerakan di laut kita,” ungkap Gatot saat menyegel stasiun April lalu.

Loading...

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com