SINDOBatam

Hattrick+

Opini+

Jungkir Balik+

Tiga Kali Pindah Kapal, Gagal Ikut Ujian

  • Reporter:
  • Selasa, 25 April 2017 | 12:55
  • Dibaca : 434 kali
Tiga Kali Pindah Kapal, Gagal Ikut Ujian
Kisah Perjalanan 12 Jam 18 Siswa Anambas untuk Ikut Ujian STAN di Batam.

Kisah Perjalanan 12 Jam 18 Siswa Anambas untuk Ikut Ujian STAN di Batam

Sebanyak 18 siswa SMAN 1 Anambas rela menempuh perjalanan 12 jam untuk mengikuti ujian masuk Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negeri (PKN-STAN) di Batam. Sempat meminta keringanan meski persyaratan kurang, panitia tetap tak memperbolehkan mereka ikut ujian.

Suasana pelabuhan Desa Tebang, Kecamatan Palmatak, Kabupaten Anambas, Kamis (20/4) pagi sedikit menggigit kulit. Pulau-pulau sekitar terlihat kabur, tertutup embun pagi. Tak banyak aktivitas di pelabuhan, hanya ada beberapa kapal patroli milik TNI AL bersandar di pelantar.

Di ujung pelantar, belasan siswa SMAN 1 Palmatak memegang erat barang-barang bawaan. Mereka akan berangkat ke Batam untuk mengikuti tes masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Perjalanan ke Batam menghabiskan waktu sekitar 12 jam dan tiga kali pindah kapal, yaitu dari Desa Tebang ke Pulau Tarempa sekitar sejam, lalu dari Pulau Tarempa sekitar 10 jam ke Tanjungpinang, dan sejam dari Tanjungpinang ke Pelabuhan Punggur, Batam.

Wahyu Tero Primadona, guru pendamping mengungkapkan, pihaknya mendapatkan informasi PKN STAN milik Kemenkeu membuka pendaftaran bagi calon mahasiswa baru angkatan 2017/2018. Dia mengkoordinir siswa yang ingin mendaftar.

“Ada 18 siswa yang ingin mendaftar. Saya bersama siswa mengumpulkan seluruh persyaratan dan mendaftar melalui online dan menerima BPO (bukti penerimaan online) setelah membayar uang pendaftaran Rp250 ribu dengan minta tolong saudara di Batam mentransfer ke rekening panitia,” ujarnya.

Selanjutnya, setiap siswa yang telah mendaftar diwajibkan datang ke lokasi pendaftaran di Batam untuk mengambil Bukti Peserta Ujian (BPU) pada 27 Maret sampai 4 April 2017. Namun, di saat bersamaan, SMA Negeri 1 Palmatak sedang melaksanakan ujian sekolah berstandar nasional (USBN).

“Bagaimana bisa ada persyaratan seperti itu. Padahal kami sedang ujian sekolah. Apalagi saat pengambilan BPU tidak bisa diwakilkan. Perjalanan kami sangat jauh dan tidak mungkin bisa pulang hari,” katanya.

Pria yang mengajar mata pelajaran sejarah ini mengatakan, seharusnya setiap kementerian yang membuka lowongan bagi anak-anak bangsa yang telah menyelesaikan pendidikan tingkat SMA sederajat dan akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, harus berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, agar jadwal penerimaan tidak mengganggu jadwal ujian di setiap sekolah.

“Memang saya akui juga, informasi pencetakan BPU ke saya terlambat dan itu adalah kekurangan kami karena keberadaan infrastruktur komunikasi di daerah perbatasan sangat minim,” ujarnya.

Meski demikian, pihaknya tetap membawa 18 siswa tersebut ke Batam untuk bertemu dengan panitia, berharap ada keringanan untuk mengikuti ujian tertulis yang dilaksanakan di Politeknik Negeri Batam pada 23 April 2017. Namun usaha untuk mewujudkan mimpi anak-anak pulau itu kandas, karena panitia tidak menerima alasan apapun.

“Saya sedih bagaimana perasaan para siswa, guru, dan para orangtua mengenai kondisi ini.
Saya bersama Kepala Sekolah langsung menemui panitia dan meminta keringanan, namun tidak bisa. Saya memaklumi karena mereka ingin menegakkan integritas,” katanya.

Selain koordinasi yang baik antara Kementerian dengan Kemendikbud, Wahyu berharap ada perlakuan khusus bagi peserta yang ada di daerah terluar dan terbelakang seperti Anambas. Karena kondisi daerah yang sangat jauh berbeda dengan daerah maju seperti Batam, Karimun, dan Tanjungpinang.

“Kami sedih. Panitia justru berkata pilih anak ikut USBN atau PKN STAN. Tentu bukan jawaban itu yang kami inginkan. Setidaknya mereka beri pengertian kepada anak-anak ini, minimal menghibur,” katanya.

Menurut dia, pemerintah belum serius memperhatikan sektor pendidikan di kawasan perbatasan, karena anak-anak yang tinggal di pulau-pulau yang berhadapan langsung dengan negara tetangga masih kesulitan untuk sekolah.

“Walaupun anak-anak ini tidak bisa ikut ujian, saya tetap bawa mereka ke lokasi ujian. Setidaknya mereka mengetahui kondisi ujian seperti itu,” katanya.

Selama ini, kata dia, pemerintah fokus membangun pendidikan di kawasan perkotaan. Padahal pemerintah menyadari Kepri memiliki 2.408 pulau dan 19 pulau terdepan.

“Setidaknya kami sudah berusaha, walau masih banyak kekurangan bagi kami di daerah perbatasan ini,” ujarnya.

Seperti diketahui, Palmatak adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepri. Ibu kota kecamatan ini adalah Tebang Ladan. Kecamatan Palmatak terletak dalam gugusan Kepulauan Anambas dan merupakan salah satu dari kecamatan yang termasuk dalam wilayah Pemkab Anambas dengan batas-batas wilayah sebagai berikut.

Di sebelah utara berbatasan dengan Laut Cina Selatan, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Siantan Tengah, sebelah timur berbatasan dengan Kepulauan Midai, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Jemaja. Wilayah Kecamatan Palmatak berada di kawasan Laut Cina Selatan yang merupakan salah satu wilayah yang ada di Kabupaten Anambas dengan luas wilayah 129,94 km2.

Mengingat letak antara pulau dan desa-desa yang ada di Kecamatan Palmatak akses utamanya melalui laut, maka transportasi yang paling dominan yang dimiliki masyarakat adalah kapal motor atau pompong. Sedangkan untuk transportasi darat menggunakan kendaraan roda dua dan empat, tergantung daerah yang dikunjungi, karena terbatas dengan akses jalan. **

Loading...

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com