SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Tinggalkan Dunia Film, Pilih Mengajar Anak-anak Baca Qur’an

  • Reporter:
  • Kamis, 4 Mei 2017 | 14:40
  • Dibaca : 354 kali
Tinggalkan Dunia Film, Pilih Mengajar Anak-anak Baca Qur’an
Nihayah. Foto Joko Sulistyo.

Lebih Dekat dengan Nihayah, Guru Ngaji Tanpa Lengan di Tanjungpinang

Lahir tanpa lengan, Nihayah tetap semangat menjalani hidup. Pernah main film, ia memilih mengabdikan dirinya sebagai guru ngaji di Masjid Raya Tanjungpinang.

Azan asar mengalun dari pengeras suara di puncak menara Masjid Raya Tanjungpinang, Selasa (2/5) sore. Suaranya menyentuh sudut-sudut pemukiman padat di tepian laut, memanggil lalu lalang pengendara untuk mengarahkan kendaraannya ke pintu pagar yang terbuka sebagian, di gerbang sisi utara yang menghadap ke pertigaan jalan.

Ridwan kecil mengayunkan langkah dengan ceria. Kaki-kaki mungil berbalut celana katun berwarna biru muda saling susul. Bunyi sandal karet berderak saat beradu dengan pasir yang terbawa hujan semalam hingga ke tepian jalan. Bocah yang tinggal di Kampung Bukit, tak jauh dari masjid itu segera menyelinap ke dalam masjid, menyusul kanak-kanak sebayanya yang terlebih dulu datang.

Celoteh anak-anak bersahutan dari dalam masjid, tak juga mereda meskipun iqamah telah dikumandangkan. Suasana hening sejenak saat imam meminta jamaah meluruskan barisan, dan salat pun dimulai.

Di teras sisi timur bangunan masjid, sebuah ruangan seluas bagian dalam rumah sederhana. Sejumlah tas punggung bergambar karakter Princess, Frozen, hingga Naruto berjajar, membentuk barisan memanjang.

Salam pengakhiran salat baru saja terucap, shaf-shaf berisikan manusia dengan posisi duduk bersimpuh masih lengkap. Satu dua orang di bagian belakang shaf berdiri meneruskan sisa rakaat yang tertinggal. Di ruangan tempat barisan tas berada, anak-anak kembali menunjukkan keberadaannya.

Tidak ada yang berdoa, tidak ada yang membaca. Bocah-bocah lugu, laki-laki dan perempuan asik duduk bergerombol, membahas apa saja. Film kartun, permainan online, hingga gosip jejaring sosial mereka bicarakan bersama sebayanya. Ridwan kecil, Aura, Fara, Zulfikar dan puluhan anak-anak itu terus saja mengoceh. Suara mereka baru hilang saat seorang pemuda tanggung, berpeci dan mengenakan kemeja batik masuk. Pemuda itu meminta seratusan anak untuk duduk membentuk barisan. Lalu seorang anak yang terlihat lebih tua dari lainnya memimpin pembacaan doa, ummul kitab, dan ayat kursi.

Pemuda berkemeja batik kemudian mempersilakan anak-anak keluar untuk membentuk kelompok-kelompok kecil, menempati karpet merah di seantero masjid. Anak laki-laki berkumpul dengan sesama, pun demikian dengan perempuan.

Di pintu timur, Nihayah Abu Bakar baru saja tiba. Belum sepuluh menit sejak ia turun dari mobil angkutan kota berwarna putih tepat di seberang masjid. Perempuan 56 tahun itu mengenakan baju kurung berwarna kehijauan, jilbab senada dan menggendong sebuah tas kecil di punggungnya. Bila tidak diperhatikan, Nihayah terlihat seperti berdiri dengan tangan bersedekap. Baju kurungnya buntu, tidak terlihat adanya lengan di sana.

Sebelas anak perempuan berbaju kurung aneka warna duduk membentuk persegi, menghadapi mushaf Alqur’an yang terbuka, di atas sebuah meja kecil. Nihayah menyusul duduk di hadapan anak-anak, menghadap sebuah meja lanti kecil dan sibuk dengan kertas-kertas absensi berwarna biru muda. Dengan kaki kanannya, ia membolak balik absen, menorehkan paraf kehadiran dengan pena yang terselip di antara ibu jari dan jari tengah kakinya.

Pengajaran dimulai. Satu demi satu gadis-gadis kecil itu maju, mengeja huruf demi huruf dari mushaf terbuka di hadapan Nihayah. Lantunan ayat Alqur’an dengan nada khas anak-anak mengalun pelan, kadang tersendat. Telaten dan lembut Nihayah membetulkan bunyi bacaan yang kemudian diikuti anak yang tengah membaca.

“Yaa Ayyuhannasuttaqu robbakumulladzii kholaqokummin nafs. Yang pakai garis panjang dibaca panjang sayang,” kata Nihayah pelan.

Gadis berusia sekitar 8 tahun itu kemudian mengeja ulang ayat pertama dari surat Annisa mengikuti contoh yang dilafalkan Nihayah. Kendati sekali waktu Nihayah harus menyimak bacaan dua orang anak, namun Tajwid, harokat dan panjang pendek bacaan salah tidak akan terlewat dari pendengaran tanpa disadarinya.

Perempuan yang lahir di Tanjungpinang, 2 Juni 1959 itu memang tidak dikaruniai sepasang tangan sejak lahir. Tinggal bersama kedua orangtuanya di Jalan Pemasyarakatan Tanjungpinang, lajang ini menekuni profesi mulia, menjawab panggilan nuraninya. Saban hari, ia mengajar 3 kali sesi mengaji Alqur’an, lengkap dengan baca tulisnya.

Nihayah pernah mengenyam pendidikan hingga bangku kuliah. Pada tahun 1981 silam, ia tercatat sebagai mahasiswi di Fakultas Ekonomi, Universitas Riau, di Pekanbaru. Pendidikan formal ditinggalkannya tak lama setelah ia resmi diterima belajar. Saat itu, kendati cita-citanya tinggi, namun ia terpaksa menyudahi mimpi demi menemani sang ibu di Tanjungpinang. Selepas ayahnya meninggal, ia mantap memilih untuk pulang menemani daripada mengejar cita-citanya menjadi seorang ekonom.

Menyudahi kuliah bukan akhir segalanya. Nihayah selalu memiliki pikiran positif dan tetap optimis. Kembali ke Tanjungpinang, ia memutar otak untuk dapat sekadar membantu kebutuhan ekonomi ibunya. Dengan modal seadanya, ia membeli kain impor dari Singapura dan menyulapnya menjadi busana muslim.

“Saya jual dengan cara kredit baju-baju muslim waktu itu,” ungkapnya.

Cahaya cerah sejenak pernah menghampiri Nihayah. Pada tahun 1992, seorang sutradara film bernama Said Ghalib Husin tengah memproduksi sebuah film yang bercerita tentang penyintas kanker payudara di sebuah rumah sakit di Jakarta.

Kala itu, Said memiliki ide untuk mengeksplorasi kehidupan penyandang cacat, tapi enggan menggunakan aktor pemeran biasa. Ia menginginkan sebuah film yang karakternya tidak jauh berbeda antara realita dan film. “Saya ditawari shooting, berperan sebagai diri sendiri, saya ambillah,” kisahnya.

Nihayah masih ingat betul kala bekerja dengan Said Ghalib Husin selama 4 bulan produksi. Ia merasakan susahnya tidak memiliki anggota badan yang lengkap saat harus melakukan pengambilan gambar di atas sebuah kapal. Tahun 1990-an dunia perfilman Indonesia mulai bertransformasi dari medium seluloid ke pita elektronik. Medium yang jauh lebih ringan dan murah itu menciptakan karya-karya film dengan pendekatan teknis baru. Sineas Indonesia mulai keluar dari kotak, mengeksekusi ide-ide segar yang kemudian dikenal sebagai sinema elektronika atau sinetron.

Satu judul yang selesai dilakoninya adalah “Kuberikan Segalanya” besutan Said Ghalib Husin.

Sinetron itu sempat menjadi nomine dalam Festival Film Indonesia 1993, namun tidak berhasil menang. Nihayah mengakui, saat itu faktor lemah saat penjurian film terletak pada logat Melayunya yang kental, membuat film itu menjadi mirip film Malaysia.

“Akhirnya di-dubbing suara saya, itu malah jadi kurang bagus filmnya,” kata Nihayah.

Setahun pulang balik Jakarta-Tanjungpinang, Nihayah merasa cukup mencecap dunia perfilman yang sama sekali baru. Ia memutuskan kembali ke Tanjungpinang dan mengabdikan seluruh waktunya untuk mengajar mengaji sejak tahun 1999 silam.

“Mengajar ngaji ini (profesi) yang saya pilih, saya bekerja untuk akhirat nanti,” ujar Nihayah.

Pagi hari Nihayah mengajar anak-anak sekolah siang di rumahnya, dilanjutkan dengan siang hari untuk anak-anak yang masuk sekolah pagi. Pada sore harinya, ia mengajar di Taman Pendidikan Alqur’an, Masjid Raya Tanjungpinang, hinga menjelang magrib.

Keterbatasan bukan alasan baginya. Nihayah yang hidup seorang diri itu menggunakan apa saja untuk dapat menjumpai anak muridnya di Masjid. Angkutan kota, ojek, bahkan jalan kaki dari rumahnya yang berjarak sekitar 3 kilometer ia tempuhi.

“Pokoknya asal tidak hujan, jalan kaki seringlah,” tuturnya.

Nihayah sudah belasan tahun mengajar. Honor sebesar Rp400 ribu ia terima tiap bulannya sebagai pengupah rasa lelah. Namun ia menyebut uang bukan tujuan utamanya. Pendidikan anak saat ini menurutnya cukup memprihatinkan. Baginya, peran mengajar harus diambil, mengalahkan tawaran peran bermain sinetron yang dahulu kerap menghampirinya. Generasi melek huruf Alqur’an semakin hari semakin menurun, ia terpanggil untuk ikut mewarnai para penerus dengan pondasi ilmu agama yang cukup.

“Kalau yang pertama saya ajar sudah pada jadi pegawai, saya sudah banyak lupa,” kenangnya.

Ditanya harapannya kepada negara dalam dunia pendidikan, Nihayah menjawab diplomatis. Menurutnya Tanjungpinang dan Indonesia secara umum tidak kekurangan orang cerdas. Namun kesempatan belajar kerap lesap bersama kesulitan dan keterbatasan ekonomi.

“Pemerintah semoga ke depan lebih banyak perhatikan pendidikan, itu saja harapan saya untuk anak-anak kedepannya,” ujarnya memungkasi pembicaraan.

Loading...

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com